Posted by: taufiqulmujib | 23 January 2010

Gerakan Buruh Indonesia

Sejarah Perjuangan Buruh di Indonesia mulai tumbuh seiring proses industrialisasi di masa kolonial. Gerakan ini tidak saja mengajukan tuntutan yang bersifat ekonomi, tetapi juga mengajukan tuntutan politik.

Dialektika antara propagandis internasional kaum sosialis yang dipengaruhi politik etis dan kecenderungan-kecenderungan evolusioner-parlementarian yang dibawanya dengan struktur masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah buruh dan petani membimbing pergerakan ke jalur revolusioner dan ekstra parlementer yang dimainkan oleh kelas buruh dan petani.

Sebut saja ISDV yang melahirkan pengorganisasian buruh kereta api (buruh perkotaan). Selain itu, orang-orang Belanda atau Indo lain di National Indische Partij atau Sarekat Hindia (NIP-SH) yang berhasil mengorganisir buruh tani. Alhasil, ISDV melahirkan tokoh Semaoen, sedangkan NIP-SH melahirkan H. Misbah.

Fenomena lain adalah Soerjopranoto Serjaningrat, kakak Soewardi Soerjaningrat yang merupakan keluarga Pakualaman justru mengorganisir buruh dari tradisi organisasi bangsawan. Adhi Darma adalah jaringan patronase Pakualaman yang melebar hingga wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman, di mana kemudian Soerjopranoto mendirikan Arbeidleger (tentara buruh) Adhi Darma. Dalam perjalanannya, ia memegang posisi komandan hingga dia kemudian mendirikan Personeel Fabriek Bond. Fenomena unik juga terjadi di aktivis gerakan Islam (Tabligh atau dakwah) yang masuk ke kancah gerakan rakyat. Artinya, segenap segmen gerakan dan aliran sosial-politik memposisikan dirinya dalam gerakan buruh.

Kesimpulan sejarah di atas bahwa pengorganisiran buruh dan petani menjadi maju karena faktor kaum muda terpelajar yang menyediakan diri sebagai jurnalis, propagandis, dan organisatoris gerakan buruh-petani, dan menembus watak serikat buruh-isme, aliran sosial dan aliran politik serta bergerak ke arah gerakan revolusioner. Namun ternyata gerakan buruh ataupun gerakan rakyat rentan terhadap perpecahan dan daya tahannya terhadap represifitas kekuasaan.

Buruh, Kelas Proletariat, dan Perjuangannya

Kemunculan kapitalisme di Indonesia merupakan akibat dari internasionalisasi modal. Dalam perspektif nasional dan demokrasi, kemunculan buruh disebabkan oleh peralihan ke kapitalisme dalam pengertian yang produksionis, yaitu terjadinya artikulasi cara produksi, di mana kapitalisme menggusur feodalisme. Hal ini terjadi bukan karena kapitalisme telah kuat, melainkan karena ditopang oleh mode of production colonial.

Pergeseran pola produksi yang berlangsung di Eropa Barat membawa pengaruh pula pada pola produksi kolonial yang tidak hanya menjual hasil pertanian dan perkebunan seperti, pabrik gula atau pengemasan teh, yang menandakan awal dari munculnya kelas buruh pabrik.

Penjelasan tersebut juga memperlihatkan kapitalisasi di daerah pertanian, dari lahan pertanian rakyat menjadi capitalist landed property yang memunculkan buruh tani. Sehingga, proletariat tidak saja dimiliki oleh buruh pabrik. Pasalnya Indonesia sebagai pengertian tanah dan air sebagai basis produksi, mensiratkan modus penindasan pada perampasan hak milik tanah dari petani-penggarap, hingga karenanya ia disebut kaum kromo, kaum proletar.

Jika merujuk kepada teori imperialisme, maka posisi Negara-Bangsa Indonesia sebagai proletar luar. Negara jajahan dan setengah-jajahan posisinya sama dengan proletar di Eropa. Proletar di Eropa adalah “proletar dalam”, sedangkan negara jajahan dan setengah jajahan adalah “proletar luar”. Sang terjajah akibat pengambilan nilai lebih negara maju disebut proletar luar.

Pemerintahan kiri di Eropa Barat menjadikan buruhnya lebih sejahtera dibandingkan dengan buruh yang berada di dunia ketiga. Keberadaan pabrik-pabrik akibat proses industrialisasi, mensyaratkan keadaan buruh kita pada kondisi minimum. Hal ini bisa diterangkan sebagai akibat bentukan industri kita yang dibangun dengan murahnya tenaga kerja dan relokasi industri dari negara maju. Semisal, upah minimum regional membuktikan tingkat kesejahteraan buruh di luar prioritas pembangunan ekonomi. Sistem upah tidak didasarkan pada kebutuhan primer sekunder buruh tetapi dari sisa atas banyaknya nilai lebih yang diambil.

Dari pemaparan tersebut, maka secara ringkas penindasan terhadap buruh disebabkan oleh tiga persoalan, yakni Persoalan Nasional, Demokrasi, dan Kerakyatan.

Perjuangan Kerakyatan adalah mengembalikan apa yang menjadi hak dari buruh dan petani kita. Yang dimaksudkan dengan hak adalah kemampuan petani untuk memproduksi kembali melalui kepemilikan tanah produktif oleh petani menggantikan kepemilikan tunggal oleh perusahaan-perusahaan perkebunan besar. Bagi buruh, tidak ada jalan lain kecuali perubahan manajerial pabrik dengan kesejahteraan buruh sebagai dasar hubungan produksi yang menguntungkan.

Sebagai suatu massa ataupun kelas, penindasan yang dialami buruh tidak hanya dilakukan oleh kaum borjuis. Ketika negara menjadi alat borjuis nasional dan borjuis transnasional serta tidak berpihak kepada buruh seperti menjadikan upah buruh murah sebagai keunggulan komparatif dan tindakan korporatis serta represif, maka hal tersebut menunjukkan ada persoalan demokrasi.

Sedangkan soal relokasi industri, investasi asing, utang luar negeri dan program pembangunan/ developmentalisme dan liberalisasi perdagangan menunjukkan adanya problem nasional.

Maka, perjuangan kaum buruh tidak semata-mata berwatak sosialis (perjuangan kelas buruh terhadap borjuis/ sosialisasi alat-alat produksi), tetapi juga berwatak nasional. Artinya, di aras nasional ini mengharuskan buruh bergabung dalam konsolidasi kerakyatan, konsolidasi demokrasi dan konsolidasi nasional.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: