Posted by: taufiqulmujib | 23 January 2010

Mempertanyakan Biofuel

Uni Eropa telah mengeluarkan ketetapan khusus terkait penggunaan energi alternatif. Kebijakan tersebut juga dikampanyekannya untuk masyarakat belahan bumi lain.

Kini, masyarakat Eropa semakin marak menambang angin sebagai energi alternatif. Sementara, di negara-negara dunia ketiga, biofuel atau bahan bakar nabati tengah dijadikan focus perhatian tersendiri. Syahdan, biofuel dianggap bisa menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Namun, menurut penelitian mutakhir, ada dampak buruk yang ditimbulkan dari produksi biofuel.

Seperti dilaporkan oleh Stephen Leahly dari IPS/ Brooklin Canada (JP, 11/2), biofuel justru membuat perubahan iklim tambah buruk karena emisi Gas Rumah Kaca (GRK) total dari biofuel jauh lebih tinggi dibandingkan dari pembakaran bensin. Pasalnya, produksi biofuel mendongkrak harga bahan pangan dan menimbulkan deforestasi serta hilangnya padang rumput. Penggunaan tanah pertanian yang baik untuk biofuel akan meningkatkan emisi GRK.

Emisi dari ethanol 93 persen lebih tingi dibandingkan bensin. Semisal, ethanol yang dibuat dari jagung diandaikan bisa mengurangi GRK 10-20 persen ketimbang bensin. Namun, studi-studi terdahulu melupakan fakta bahwa ketika tanah pertanian digunakan untuk penanaman bahan bakar, akan berimbas pada berkurangnya lahan untuk menanam pangan di negara yang masih dilanda kelaparan. Alhasil, jumlah panen yang terbatas menyebabkan harga bahan pangan membumbung, dan selanjutnya mendorong orang melakukan konversi hutan serta padang rumput asli untuk menanam tanaman pangan.

Kecenderungan global untuk mempercepat pengembangan industri biofuel akan memberi insentif peningkatan produksi pertanian. Ini semua memerlukan perluasan lahan. Karena ekstensifikasi kian terbatas, pilihan paling memungkinkan adalah konversi hutan ke lahan pertanian. Padahal, mengubah hutan dan padang rumput dalam konteks perubahan iklim sangat berbahaya. Dan seperti yang kita ketahui, setiap hektar lahan yang dikonversi menghasilkan timbunan GRK sekitar 351 ton di atmosfer.

Selain itu, produksi biofuel juga akan mengambil jatah air yang besar. Pada masa mendatang produksi bahan pangan terus meningkat dan konsumsi air di sektor pertanian pun meningkat. Stockholm International Water Institute (SIWI) memprediksi, pada tahun 2050 jumlah air tambahan yang dibutuhkan untuk produksi biofuel akan setara dengan jumlah air yang dibutuhkan pertanian pangan. Apabila produksi biofuel juga ditingkatkan, maka akan terjadi perebutan air antara produksi bahan pangan dan biofuel. Pertanian pangan akan kehabisan air ketika air dialihkan ke pertanian produksi biofuel.

Biofuel vs Hak Atas Pangan
”Demam biofuel” bukan hal baru. Dunia internasional sudah banyak yang memproduksi dan memakai biofuel secara komersial. Jerman, Prancis, dan Austria menggunakan kanola (rapeseed), Spanyol bertumpu pada minyak zaitun (olive oil), Amerika Serikat pada minyak kedelai (soybean) dan jagung, Italia pada bunga matahari (sunflower oil), Mali, India, serta Afrika pada jarak pagar (jatropha oil), Filipina pada kelapa (cocodiesel), Brasil pada tebu, dan Malaysia pada minyak sawit (palm oil). Indonesia mengembangkan biofuel dari tebu, singkong, sawit, dan jarak pagar.

Dalam konteks Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006. Ada 13 menteri dan seluruh pemerintah daerah di seluruh Indonesia yang ditugaskan menggiatkan pemanfaatan biofuel. Targetnya, tahun 2010 penggunaan biofuel mencapai 720 ribu kiloliter, dan tahun 2015 meningkat menjadi sekitar 1,5 juta kiloliter.

Secara ekonomi, jika harga energi fosil terus tinggi, biofuel akan kompetitif. Semisal, penjualan PT. Garuda Food mengalami penurunan drastis di tahun 2007. Penyebabnya tak lain dikarenakan lonjakan harga kacang dunia. Harga bahan baku seperti kacang tanah sejak awal 2007 naik dari US$ 625 per metrik ton menjadi US$ 950 per metrik ton. Pasalnya, di beberapa negara, kacang tanah dikonversi menjadi minyak kacang seiring dengan melonjaknya harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil).

Earth Policy Institute menyebut bahwa produksi biji-bijian dunia pada 2006 berkisar 1,9 miliar ton. Namun, konsumsi mencapai lebih dari 2 miliar ton. Artinya, ada kekurangan 72 juta ton. Di sisi lain, akhir 2007, ada 800 juta orang yang menggunakan komoditas biji-bijian tersebut untuk biofuel. Jika situasi tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, akan terjadi tarung bebas antara 2 miliar rakyat miskin yang butuh pangan dengan 800 juta mobil dan jutaan industri.

Untuk Indonesia, situasi adalah arena duel sekitar 39 juta penduduk miskin dengan jutaan pemilik mobil dan industri.
Bagi negara-negara nett importer pangan atau negara yang jumlah penduduknya besar seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi memperburuk situasi ketahanan pangan. Kenaikan harga pangan akibat permintaan untuk biofuel akan berdampak negatif pada penduduk miskin yang di dunia jumlahnya lebih dari 2 miliar orang. Di Indonesia, nett importer pangan yang dapat diolah menjadi biofuel; gula (0,6 juta ton), kedelai (1,2 juta ton), dan jagung sejumlah 1,6 juta ton. (Khudori, 2006).

Indonesia tidak lepas dari masalah krusial ini. Angka kemiskinan di Indonesia mencapai lebih dari 37,17  juta jiwa (16,58 persen). Dari total rakyat miskin di Indonesia, sekitar 66 persen berada di pedesaan dan sekitar 56 persen menggantungkan hidup di sektor pertanian.

Nah, demi menangani pemanasan global, seharusnya prioritas dunia tidak dititikberatkan pada cara pengembangan biofuel, tapi pada pengurangan konsumsi bahan bakar dan menata ulang sistem perdagangan-industri global yang berkeadilan. Ekosistem bumi akan tetap rusak apabila konsumsi biofuel sebanyak konsumsi bahan bakar fosil pada saat ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: