Posted by: taufiqulmujib | 1 August 2011

Indonesia dan Pertanian Dunia: Tetap Pemasok Buruh Murah

Sudah sejak zaman kolonialisme, Indonesia merupakan pemasok bahan mentah hasil pertaniannya pada pasar dunia. Bagaimana dengan posisi Indonesia pada zaman sekarang di Abad 21 ini? Masihkah posisi zaman penjajahan itu ditempatinya?

Memahami posisi Indonesia dalam percaturan politik global jelas tidak mudah, tetapi itu tidak bisa dihindari, terutama kalau ingin mengetahui posisi Indonesia yang sebenarnya. Misalnya, seberapa jauh posisi pemasok bahan mentah hasil pertanian yang pernah ditempati di zaman kolonial dulu sudah ditinggalkan? Atau mungkin Indonesia tetap pada posisi itu?

Posisi pinggiran
Inilah yang berusaha dipahami oleh 21 orang pegiat agraria Indonesia ketika selama bulan Mei ini mengikuti kursus transisi agraria dan pembangunan pedesaan di ISS, Institut Studi Sosial Den Haag dengan beasiswa lembaga kerjasama pendidikan tinggi Belanda NESO. Diharapkan seusai kursus para pegiat agraria ini akan memanfaatkan pengetahuan, pengalaman dan jejaring baru untuk memahami dan memajukan kebijakan agraria dan pedesaan. Dengan begitu politik agraria ini akan dapat menjawab berbagai persoalan agraria dan kemiskinan di pedesaan di Indonesia.

Menurut Tri Agung Sujiwo, salah satu peserta dari ARC yaitu Agrarian Resource Centre di Bandung, tujuan kursus adalah melihat perubahan agraria di tingkat global. Selama sebulan itu pesertanya diberi masukan teori yang bisa dijadikan bahan untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya masing-masing.

Dengan begitu bisa dikatakan kursus ini tidak secara khusus membahas Indonesia. Menurut Sujiwo, kursus ini sebenarnya menawarkan perkembangan diskursus, wacana, teori tingkatan global dan bagaimana perubahan terjadi pada tingkat global. Sebenarnya ini lebih berupa perdebatan akademik, karena sebagaian besar peserta berasal dari LSM, praktisi. Lembaga pendidikan tinggi seperti ISS melihat ada kebutuhan untuk memberi masukan wacana yang berkembang di tingkatan global. “Untuk saya dan praktisi lain bahan semacam ini itu sangat penting karena jelas menambah pengetahuan kalau nanti balik lagi ke wilayah kerja masing-masing”, demikian Tri Agung.

Dalam perubahan agraria global ini, Tri Agung Sujiwo menyebut Indonesia sebenarnya berada pada posisi pinggiran. Berdasarkan perkembangan terakhir, Indonesia hanya menjadi satu wilayah besar penghasil produk, satu wilayah besar tempat penanaman bahan mentah. Selain itu juga pasar tenaga kerja, tepatnya penyedia tenaga kerja yang murah untuk industri pertanian.

Dikembalikan lagi
Dari sini patut dipertanyakan, seberapa jauh sektor pertaniannya bisa merupakan sumber kesejahteraan bagi orang Indonesia? Sejenak Sujiwo merenung, memikirkan jawabannya. Katanya, “Industri Indonesia masih sangat bergantung pada industri pertanian, pada komoditas pertanian. Tapi sebagian besar hasil industri pertanian tidak untuk konsumen dalam negeri. Hasilnya untuk ekspor dan untuk pasar internasional. Jadi, sebenarnya apa yang dihasilkan di Indonesia kemudian dilempar ke pasar internasional baru kemudian dikembalikan lagi ke dalam negeri dalam bentuk barang olahan,” demikian aktivis agraria Sujiwo dariAgrarian Resource Centre di Bandung.

Radio Nederland jelas masih belum puas dengan jawaban ini. Bisakah dikatakan sektor pertanian belum merupakan tumpuhan bagi industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia? Tri Agung memastikan, sejauh ini belum. Idealnya industri Indonesia harus bertumpu pada sektor pertanian. Industri pertanian harus menopang industrialisasi Indonesia. Kalau ini benar-benar terjadi, maka ada kaitan antara industri manufaktur dan industri pertanian. Industri Indonesia seharusnya memang bertumpu pada pertanian. Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di wilayah pedesaan dan hidup dari bertani. Demikian Tri Agung Sujiwo.

Konflik agraria
Peserta lain, Taufiqul Mujib, dari Indonesian Human Rights Committee for Social Justice IHCSJ atau Komite Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia untuk Keadilan Sosial di Jakarta berharap bisa memperoleh hal-hal baru dari kursus transisi agraria ini. Ia juga ingin memperoleh hal-hal baru, pengetahuan-pengetahuan baru di bidang transisi agraria. Dari sini dia berharap bisa mengkaitkannya dengan Indonesia. “Kebetulan organisasi kami”, Taufiqul berlanjut, “memiliki kerja-kerja advokasi, khususnya di bidang agraria. Jadi harapannya itu bisa membantu kami dalam proses advokasi ke depan.”

Tentu saja orang tergelitik untuk mengetahui lebih lanjut proses advokasi yang disinggung Taufiqul. Ia menerangkan, kasus-kasus agraria yang ditangani IHCSJ banyak macamnya. Tapi kalau digolongkan, maka dia melihat paling tidak terdapat sembilan jenis konflik agraria. Yang pertama, dan ini yang dominan di Indonesia, adalah soal perkebunan. Lalu yang nomer dua pertambangan, terus disusul kehutanan, ada instalasi militer, ada fasilitas umum dan sebagainya.

Taufiqul Mujib melihat dalam setiap kasus ternyata selalu ada pola perubahan klaim atas pemilikan atau akses terhadap sumber-sumber agraria. Di Den Haag dia juga mendapati bahwa hal ini secara teroretis sudah ditulis oleh beberapa orang, terutama di lingkungan kampus.

Itukah manfaat kursus ini? Taufiqul tidak ragu, “Salah satunya memang itu. Yang kedua, dengan kursus ini beberapa kasus yang kita dampingi dan berada di pedalaman Indonesia bisa terungkap”. Paling tidak, melalui kursus ini dia bertemu teman-teman sebidang, bidang agraria, tetapi dalam konteks regional dan internasional. Dari itu Taufiqul bisa saling bertukar informasi dan itu bisa dikampanyekan di masing-masing wilayahnya.

Kursus transisi global agraria tampaknya memang memberi wawasan dunia kepada pesertanya, sehingga mereka tidak lagi melihat Indonesia sebagai kasus tersendiri.

sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/indonesia-dan-pertanian-dunia-tetap-pemasok-buruh-murah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: